Bisnis Asuransi Syariah

Industri syariah di Indonesia terus menggeliat. Selain bisnis keuangan, sistem bisnis syariah agaknya mulai menjadi tren di bidang travel dan gaya hidup. Namun, di antara sekian banyak jenis bisnis syariah yang sedang berkembang, ada satu yang sesungguhnya memiliki potensi besar di Indonesia. Bisnis tersebut adalah asuransi syariah.

Asuransi Syariah?

Masih banyak orang yang bingung mengenai apa itu asuransi syariah. Kebanyakan masyarakat berpendapat bahwa asuransi syariah dan asuransi konvensional merupakan produk yang sama.

Bahkan ada yang mencoba menjelaskan, “Kalau asuransi syariah itu memakai dasar-dasar islam,” setelah ditanya lebih lanjut dasar-dasar apa yang dimaksud, masyarakat belum bisa menjawab. Ada juga yang mengatakan asuransi syariah hanyalah asuransi konvensional yang ditambahkan dengan kata “Bismillah” kemudian menjadi asuransi syariah.

Hal ini terjadi karena masih banyak masyarakat yang belum mengerti benar mengenai apa itu asuransi syariah, bagaimana konsep operasionalnya, bagaimana proses pencatatan preminya, dan lain sebagainya.

Asuransi syariah merupakan asuransi yang berprinsip pada “saling menanggung risiko” antar sesama peserta. Hal ini menjadikan asuransi syariah ideal bagi setiap kalangan yang ingin dana asuransinya dikelola secara transparan. Apa yang menjadi karakter utama dari asuransi syariah? Simak ulasannya di bawah ini, yuk!

Pesatnya perkembangan lembaga-lembaga asuransi syariah di Indonesia, menunjukan besarnya minat kaum muslim untuk menjawab kebutuhan mereka akan lembaga asuransi yang aman dan sesuai syari’ah. Meskipun asuransi pernah dan masih menjadi suatu perdebatan (pro-kontra) seputar hukumnya menurut syara’, tetapi secara de facto, umat Islam membutuhkan keberadaan lembaga asuransi yang berdasarkan syari’ah, bebas dari praktek riba, gharar dan maisyir.

Pengertian Asuransi Syariah berdasarkan Fatwa Dewan Syariah Nasional No. 21/ DSN-MUI/ X/ 2001 adalah sebuah usaha saling melindungi dan tolong-menolong di antara sejumlah orang melalui investasi dalam bentuk aset dan/atau tabarru’ yang memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui Akad yang sesuai dengan syariah.

Proses hubungan peserta dan perusahaan dalam mekanisme pertanggungan pada asuransi syariah adalah sharing of risk atau “saling menanggung risiko”. Apabila terjadi musibah, maka semua peserta asuransi syariah saling menanggung. Dengan demikian, tidak terjadi transfer risiko (transfer of risk atau “memindahkan risiko”) dari peserta ke perusahaan seperti pada asuransi konvensional.

Peranan perusahaan asuransi pada asuransi syariah terbatas hanya sebagai pemegang amanah dalam mengelola dan menginvestasikan dana dari kontribusi peserta. Jadi pada asuransi syariah, perusahaan hanya bertindak sebagai pengelola operasional saja, bukan sebagai penanggung seperti pada asuransi konvensional.Premi dalam asuransi syariah dikategorikan menjadi 3 rekening.

Ada rekening tabungan peserta, rekening perusahaan asuransi, dan yang paling penting adalah rekening tabarru. Rekening tabarru inilah yang nantinya akan dipakai oleh sesama peserta untuk saling menolong. Rekening ini digunakan bagi peserta yang mengalami resiko asuransi.

Untuk menjaga pelaksanaanya agar tetap sesuai koridor hukum Islam, produk asuransi syariah tidak berinvestasi pada usaha-usaha yang haram atau dihindari agama, seperti: minuman beralkohol, bisnis perjudian, dan rokok. Usaha dengan prinsip bunga (riba) pun tidak diperbolehkan dalam asuransi syariah. Hal ini diawasi langsung bukan hanya oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tapi juga Dewan Syariah Nasional (DSN).

Meski populer, tidak sedikit yang beranggapan kalau asuransi syariah hanya bisa diikuti oleh umat muslim saja. Padahal, masyarakat non muslim juga bisa memilikinya. Mereka berpikir bahwa asuransi syariah hanya untuk mereka yang beragama islam. Apakah benar bahwa syariah islam melarang produk asuransi syariah dibeli ataupun dijal oleh orang non muslim?

Tentu saja tidak. Pada dasarnya, asuransi syariah merupakan asurasi ideal bagi setiap kalangan yang ingin dana asuransinya dikelola secara transparan.

Hal ini diterangkan dalam beberapa karakteristik syariah islam, yaitu:

  1. Sempurna ( kaffah / syumuliyah ), meliputi segala bidang kehidupan. ( QS. Al Maidah : 3 )
    Syariat Islam mengatur segala aspek kehidupan. Penjabarannya diserahkan kepada ulama yang mujtahid (yuris hukum islam). Sebagai contoh adalah hubungan antara pemimpin dan anak buah.
  2.  Universal, berlaku untuk seluruh alam tanpa batas  Siapapun bisa menjual dan membeli produk keuangan syariah tanpa melihat agama atau keyakinan, yang terpenting adalah produknya harus halal.
  3. Seimbang / Adil ( Tawazuniah / Al ‘Adalah ). Islam memerintahkan manusia untuk mencari nafkah, tetapi dilarang bersifat imperial dan kolonial.

Dalam Fiqih Muamalah diterangkan, “Al-Ashlu fil Mu’aamalati al-Ibaahah ill Ma dalla daliilun ‘ala tahriimihi”  yang artinya adalah, “Semua hal boleh dilakukan kecuali ada ketentuan yang mengharamkan”. Dari keterangan ini pula kita dapat melihat bahwa asuransi syariah itu boleh atau halal asalkan tidak mengandung hal-hal yang diharamkan.

Apa saja hal-hal yang diharamkan itu?

  1. Maysir (perjudian/gambling)
  2. Maksiat
  3. Aniaya (zhalim)
  4. Gharar (penipuan,ketidakjelasan)
  5. Haram (komoditi)
  6. Riba (bunga)
  7. Risywah (suap)

Secara umum pengertian asuransi menurut UU No.2 Th 1992 bisa disimpulkan sebagai proses transfer risiko dari peserta asuransi kepada perusahaan asuransi. Maksudnya adalah risiko yang ada pada peserta akan ditanggung secara penuh oleh perusahaan asuransi.

Berbeda dengan konsep asuransi konvensional, dalam asuransi syariah tidak terjadi proses transfer risiko. Secara umum definisi Asuransi Syariah adalah, “Usaha saling melidungi dan tolong menolong diantara sejumlah orang/pihak melalui investasi dalam bentuk aset dan atau tabarru’ (dana kebajikan) memberikan pola pengembalian untuk menghadapi risiko tertentu melalui akad (perikatan) yang sesuai dengan syariah.

Jadi, premi yang nasabah bayarkan akan dikumpulkan dan menjadi dana tabarru’ yakni dana yang digunakan untuk membayar klaim nasabah lain yang tertimpa musibah. Dengan kata lain, ada saling membantu sesama nasabah.

Dengan konsep seperti ini maka tidak ada unsur judi (maysir) yang timbul dan inilah yang menjadikan asuransi syariah ini menarik karena tidak hanya kita bisa mendapatkan proteksi keuangan bagi diri sendiri dan keluarga, tetapi kita juga bisa saling tolong menolong dengan peserta lainnya.

Dalam asuransi syariah sesama nasabah saling tolong menolong, bantu membantu ketika ada diantara salah satu dari mereka mengalami musibah seperti meninggal, sakit kritis dan kecelakaan, karena biaya untuk musibah tersebut diambil dari dana tabarru’ ( dana kebajikan ) yang di potong setiap bulan dari tabungan nasabah dalam dunia asuransi di kenal dengan Share of risk ( berbagi resiko ).

Besarnya potongan sesuai dengan uang pertanggungan yang di minta nasabah, jadi nasabah menentukan sendiri tidak di tentukan perusahaan asuransi. Hal ini senada dengan firman Allah dalam surat Al Maidah : 2

“ Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keredhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, Maka bolehlah berburu. dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. dan bertakwalah kamu kepada Allah, Sesungguhnya Allah Amat berat siksa-Nya”

Mari Menjadi Mitra Bisnis Asuransi Allianz dengan Membuka Cabang di Kota Andadaftar agen allianz

Telepon/SMS/WA: 08119292466  info@bisnisasuransi.org